Belajar dari Pengalaman agar Pendidikan Anak Tak Berantakan

Tahun 2008 lalu adalah waktu yang begitu sulit aku lalui. Setelah lulus SMP dengan NIM yang bisa dibilang bagus dan masih masuk dalam deretan 10 besar, aku harus menelan kenyataan bahwa ibu tidak mampu lagi menyekolahkan aku. Pasalnya, bapak sudah lama meninggal. Sementara adik masih Sekolah Dasar. Padahal aku selalu punya mimpi untuk menjadi orang besar. Orang sukses. Orang hebat yang menghebatkan orang lain. Tapi aku harus melalui ini dulu. Kamu tahu bagaimana rasanya ketika itu? Sedih luar biasa. Bukankah pendidikan adalah salah satu jalan untuk meraih kesuksesan di masa depan? Meski sebagian kecil orang sukses dengan tidak mengenyam pendidikan. Bagiku, pendidikan atau ilmu sangat lah penting untuk menunjang kesuksesan dan mimpi.

Sementara aku disini harus rela mengalah agar adikku bisa menyelesaikan sekolahnya. Mengerti keadaan ibu yang hanya seorang diri. Kerja serabutan. Penghasilan tak menentu tiap hari. Sedang ibu masih menghidupi anak-anaknya yang baru berusia belasan tahun.

Waktu pun membawaku sampai di Ibu Kota. Merantau seorang diri tanpa siapa-siapa. Kerja. Mencari sumber pendapatan di usia yang masih sangat muda. Sedang teman-teman lainnya di luar sana asik belajar di sekolah tanpa memikirkan biaya atau dananya. Aku mencoba mengerti keadaan ibu. Dari seberang sini membantunya mengumpulkan receh demi receh untuk sekolah adik dan kebutuhan ibu. Mudah? Tidak sama sekali. Bahkan aku pernah menjadi asisten rumah tangga. Karena anak seusiaku dulu memang tidak mudah mencari kerja. Mau tidak mau harus melakukan pekerjaan yang biasa dipandang sebelah mata oleh orang lain.

Setelah beberapa tahun di Jakarta, banyak hal yang aku lakukan. Semakin lama semakin banyak orang yang aku kenal. Dan pekerjaan dengan mudah aku dapatkan. Apa saja aku mau asal menghasilkan uang halal. Hingga akhirnya di sela waktu kerja aku putuskan untuk terus belajar. Pulang pergi dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Mengikuti seminar. Bergabung dengan komunitas belajar. Dan meneruskan sekolah dengan jalan kejar Paket C (setara dengan SMA). Alhamdulillah, selalu ada jalan ketika mencari ilmu. Bekerja sambil belajar aku jalani.

Sampai awal 2015 aku putuskan untuk berhenti kerja agar lebih fokus untuk belajar. Dan belajar mengajar Alquran. Itu pun hanya sampai akhir tahun 2016. Karena aku menikah dan harus meninggalkan Kota Jakarta yang telah banyak mengukir cerita hidupku.

Meski saat ini aku sudah menikah. Punya anak. Aku masih melanjutkan pendidikan dengan susah payah. Jalur non formal aku ambil agar dapat membagi waktu antara belajar dan keluarga. Apalagi anakku masih batita. Belum lagi harus memikirkan biaya kuliah setiap semesternya. Mengatur uang untuk kebutuhan sehari-hari, bulanan dan belajar. Ternyata memang tidak mudah. Terlebih jika ada kebutuhan di luar dugaan. Sedang yang kerja hanya suami.

Dari pengalaman pendidikanku ini, aku ingin jadikan sebuah pelajaran untuk masa depan pendidikan anak-anak kami. Jangan sampai mereka melewati masa sesulit aku dulu. Jangan sampai lah. Cukup berhenti pada kehidupan ibunya saja. Aku ingin dana pendidikan anak-anak terjamin. Tidak berantakan. Dan mulai memperbaiki pengaturan keuangan dengan sebaik-baiknya. Agar ada dana yang mengucur untuk pendidikan anak-anak nanti. Bagaimana pun dana pendidikan anak perlu persiapan dengan matang kan?

Di Indonesia dana pendidikan tidak lah murah Apalagi penghasilan masing-masing keluarga tentu tidak sama. Mungkin orang lain hidup berlebihan harta. Sementara kita belum tentu begitu. Walau ada sebagian anak-anak yang mendapatkan bantuan dana dari pemerintah atau beasiswa, tapi dapat mencukupi dana pendidikan anak adalah suatu kepuasan tersendiri. Tidak perlu menunggu bantuan dari orang lain. Sampai was-was jika nanti dikeluarkan karena suatu hal. Maka perlu sekali mempersiapkan dana pendidikan anak sedini mungkin. Agar pendidikan mereka terjamin. Tidak sampai putus sekolah atau menundanya, seperti pengalaman pribadiku itu.

Akhir-akhir ini pun aku mulai memikirkan dana pendidikan putriku, Ittaqi. Dan ingin merencanakannya sesegera mungkin. Semoga tidak telat ya? Saat ini putriku berusia 16 bulan 21 hari. Nah! Bagaimana caranya? Ini adalah tips dari aku ya 🙂

1. Memperkirakan Jenjang Pendidikan

Secara umum jenjang pendidikan yang kita ketahui itu dari anak mulai TK A sampai S3. Tapi untuk pasangan seusia aku dan suami, aku fokuskan ke jenjang pra sekolah sampai SD dulu. Mungkin jika ada rejeki atau dana berlebih ke depan nanti, aku akan rencanakan dana pendidikan anak ke jenjang yang lebih tinggi.

Penting sekali kita mencatat sampai jenjang mana rencana pendidikan anak, karena dengan itu kita bisa memperkirakan semua dana yang dibutuhkan. Bahkan bisa mencoba memperkirakan naiknya dana pendidikan setiap tahunnya, agar dapat memperoleh perkiraan dana pendidikan yang mendekati benar.

2. Catat Perkiraan Biaya Pendidikan

Setelah mengetahui jenjang pendidikan mana dulu yang kita pilih untuk mempersiapkan dana pendidikan anak ke depan, sekarang saatnya mencatat perkiraan biaya pendidikan. Dimana biaya pendidikan setiap sekolah pasti berbeda. Biaya sekolah negeri pasti berbeda dengan sekolah swasta atau international. Maka, perlu kita buat perkiraan biaya semuanya. Agar nanti kita mengerti mana sekolah yang sesuai dengan keuangan yang kita miliki.

3. Sisihkan Uang untuk Biaya Pendidikan Anak

Jika hanya bicara atau merencanakan suatu hal itu mudah ya. Maka untuk mewujudkan suksesnya kita menjamin dana pendidikan anak, maka perlu banget menyisihkan sebagian penghasilan untuk mencicil perkiraan biaya yang sudah direncanakan. Jangan sampai uang habis begitu saja, tahu-tahu sudah tiba waktunya anak sekolah dan butuh dana pendidikan.

Sisihkan uang untuk biaya pendidikan anak dari penghasilan bulanan yang diperoleh. Bisa ditabung sendiri di rumah. Melalui Bank. Atau berinvestasi dalam bentuk emas batangan. Jika perlu kita juga mulai berasuransi. Bagaimana pun asuransi juga sangat berguna saat kita membutuhkan dana besar, seperti dana pendidikan anak.

Bicara soal asuransi nih! Aku baru tahu mengenai perusahaan asuransi yang terpecaya di Indonesia. Sequis, namanya. Sequis merupakan identitas utama perusahaan yang menaungi PT Asuransi Jiwa Sequis Life, PT Asuransi Jiwa Sequis Financial, dan PT Sequis Aset Manajemen yang memasarkan berbagai macam produk asuransi. Termasuk asuransi pendidikan yang aku butuhkan. Dengan bergabung dengan Sequis, semoga bisa menjadi solusi terjaminnya dana pendidikan anak-anak di masa depan agar tak berantakan.

Di dalam Asuransi Pendidikan Sequis ini, kita bisa memilh produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keuangan kita. Diantaranya ada TelePro Beasiswa Berjangka, Edu Plus, Sequis EduPlan Insurance, Sequis EduPlan dan Sequis Global EduPlan Insurance.

Kita perlu berasuransi untuk sesuatu yang bernilai besar seperti pendidikan anak-anak ini. Mudah-mudahan produk asuransi pendidikan dari Sequis bisa menjadi solusi.

Yup! Itu lah pengalaman pahit masa laluku mengenai pendidikan. Disini aku belajar agar masa laluku itu tidak terjadi pada anak-anak. Aku ingin memperbaiki semuanya. Mengatur keuangan dengan lebih baik. Agar dapat menyisihkan sebagian rejeki yang dititipkan Tuhan melalui suami untuk dana pendidikan anak-anak nanti. Mudah-mudahan tulisan yang masih sederhana ini juga bermanfaat bagi teman-teman ya 🙂

Tip Hemat Uang Belanja bagi Mama Muda

Datdut.com

Mengatur keuangan tidaklah mudah bagi seorang istri. Terlebih dengan penghasilan suami yang masih pas-pasan. Hidup ngontrak. Punya anak lagi.

Nah! Untuk itu, saya ingin sekali berbagi tips menghemat uang belanja agar setiap kebutuhan keluarga tercukupi dan semakin disayang suami.

1. Buat Catatan Pemasukan dan Pengeluaran

Membuat catatan pemasukan dan pengaluaran ini membantu banget dari pengalaman saya sendiri. Karena kita jadi tahu berapa uang yang bisa kita kelola dan untuk apa saja nantinya.

Jadi, belanja tidak asal bawa uang berlebihan. Tapi dengan membawa uang dengan jumlah yang dibutuhkan. Sehingga habis sesuai kebutuhan.

2. Memasak Sendiri

Sebagai seorang ibu dan istri tentu memasak untuk keluarga merupakan suatu kebaikan. Selain dapat menambah cinta pada pasangan dan anak-anak.

Dengan memasak sendiri pun kandungan gizi menu makanan kita jadi tahu. Kebersihan selalu terjaga. Apalagi dapat menghemat uang belanja.

Karena jika tiap hari harus menghabiskan uang untuk beli lauk matang hanya akan mendekatkan kita pada pemborosan.

Makan sehari tiga kali misalnya. Satu orang lima ribu. Kalikan tiga. Jadi lima belas ribu. Kalikan lagi dengan penghuni rumah. Sudah berapa dalam sehari pengeluarannya?

Lebih baik masak sendiri bukan? Beli sawi dua ribu. Ditumis. Ikan bandeng setengah kilo sepuluh ribu. Habis dua belas ribu. Hemat banget. Makan sudah bisa sampai sehari.

Tapi jika memang sesekali ingin beli lauk matang juga tidak apa. Yang penting kita tetap cerdas dalam membelanjakan uang. Kasihan suami juga kan, kerja demi kita dan anak-anak. Tapi uang habis begitu saja.

3. Jangan Beli Air Kemasan/Galon

Bayangin juga nih. Selain beli lauk matang di luar. Terus beli lagi air kemasan. Sebulan sudah bisa dibayangkan bakal habis ratusan ribu. Sayang kan?

Saya pun masak air sendiri. Tetap menyehatkan meski bukan air kemasan/galon. Dengan memasak air sendiri pun dapat menghemat pengeluaran, lo. Karena orangtua jaman dulu pun melakukan hal ini.

4. Bawa Uang Belanja Sesuai Kebutuhan

Biasanya nih ya. Ibu-ibu paling suka belanja. Jika begitu, bawa uang berapapun kemungkinan bakalan habis banyak. Tidak sesuai dengan perkiraannya ketika di rumah.

Oleh karena itu, bawa uang belanja sesuai kebutuhan ini membantu juga agar ibu-ibu tidak kebablasan pas belanja.

5. Bawa Catatan Belanja

Selain bawa uang sesuai kebutuhan, menurut saya pun perlu membawa catatan belanja. Agar kita dapat belanja sesuai kebutuhan. Bukannya melenceng pada keinginan lainnya.

6. Manfaatkan Diskon tapi Jangan Tergiur

Macam mana ini? Manfaatkan diskon tapi jangan tergiur? Yup! Dari pengalaman pribadi, belanja bulanan jika kita cari yang diskonan benar-benar mengurangi pengeluaran.

Kebutuhan rumah yang tadinya dua puluh ribu pun bisa terpotong jadi tujuh belas ribu. Lumayan kan? Belum diskonan yang lain. Kalau dikumpulkan bisa mencapai sepuluh ribu penghematan kali.

Tapi jangan sampai dengan banyaknya barang diskon, kita jadi ngeborong barang yang bukan termasuk kebutuhan. Yang tadinya mau hemat jadi kebablasan belanja. Uang ludes deh.

7. Iseng Ikutan Kuis atau Lomba Berhadiah

Di jaman yang serba canggih seperti sekarang ini. Kita pun bisa memanfaatkan berbagai macam media sosial sebagai ajang mencari rejeki, lo.

Salah satunya mengikuti kuis atau lomba berhadiah. Karena banyak perusahaan dan usaha online yang ingin dipromosikan produknya dengan cara mengadakan kuis atau lomba berhadiah.

Dengan rajin mengikuti ini pun pengeluaran bisa berkurang. Karena yang tadinya harus beli keperluan anak. Kali ini tidak, karena dapat hadiah.

Tidak ada salahnya kan? Toh kita tidak mencuri. Tidak perlu malu. Dari pengalaman pribadi nih, hampir tidak pernah saya beli perlengkapan toiletries anak seperti sabun, bedak, lotion, dan sebagainya.

Belum lagi jika dapat voucher belanja. Duh! Bahagianya.

Yuk, ah! Manfaatkan media sosial juga untuk menghemat uang belanja.

Kira-kira itu lah tips hemat uang belanja ala saya ini. Yang hidupnya masih ngontrak dan penuh perjuangan. Semoga bermanfaat.

(Telah terbit sebelumnya di Datdut.com 26 Juli 2019 lalu)

Punya Masalah dengan Mertua? Ini Solusinya

Hasil gambar untuk rumah mertua
Ilustrasi: Radar Bromo

Biasanya, salah satu ujian paling berat dalam berumah tangga adalah ketika mengalami benturan dari mertua.

Di sini saya ingin mencoba membahas bagaimana seorang istri harus pandai-pandai mengambil keputusan jika mengalami benturan dengan orangtua suaminya.

Misal beberapa waktu lalu seorang teman kebingungan, setelah melahirkan ingin sekali tinggal bersama ibunya.

Selain anak yang dilahirkan merupakan cucu pertama, ia juga lebih merasa nyaman tinggal bersama orangtua untuk sementara waktu. Tinimbang bareng sama mertua.

Bagaimana pun akan lebih enak minta bantuan orangtua sendiri daripada mertua kan? Meski sebenarnya mertua juga orangnya baik banget. Tapi tetap ada rasa segan.

Masa menantu dengan seenaknya tengah malam minta tolong mertua untuk bantuin ngurus anak? Kalau ibu sendiri beda, tanpa minta bantuan biasanya akan bangun dan membantu anaknya mengurus cucu terkasih.

Saya pun sepulang lahiran dari rumah sakit untuk beberapa saat tinggal bersama mertua. Tidak ada cerita tengah malam ada yang bantuin mengurus anak.

Walau sebenarnya mertua saya orangnya memang baik sekali. Begitulah bedanya tinggal bersama orangtua sendiri dan mertua paska melahirkan

Lantas, bagaimana keputusan yang diambil oleh teman saya tadi? Sementara mertua pun ingin ia tinggal bersamanya setelah lahiran. Terlebih suami juga menginginkan hal yang sama.

Istri harus nurut apa kata suami. Suami pun juga harus mendahulukan keinginan ibunya daripada istri. Nyesek banget ya?

Dalam keadaan setelah lahiran biasa kondisi seorang istri masih lemah, bawaannya stres.

Suami pun harus mengerti istri, juga orang-orang di sekitarnya. Bagaimana harus memberikan yang terbaik untuk istri dan anak. Atau menantu dan cucu. Jangan tenggelam dalam keegoisannya sendiri.

Jika memang istri menginginkan suatu hal, alangkah lebih baik mengutarakan isi hati kepada suami juga. Meski harus mengatakan ingin lebih dulu tinggal bersama orangtua, baru mertua.

Setidaknya ceritakan uneg-uneg. Jika suami tetap menginginkan hal yang berbeda, mau tidak mau harus nurut dan sabar dulu. Mungkin ada jalan keluar lainnya.

Seperti teman saya, ibunya pun pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di rumah besannya untuk beberapa hari.

Setelah ia bercerita pada sang ibu, jika tidak bisa langsung tinggal dengannya. Harus di rumah mertu dulu. Masalah pun terpecahkan.

Menjadi istri memang kadang dilema. Inginnya begini, tapi suami mau begitu. Jadi harus mengerti, karena suami juga harus bakti kepada ibunya.

Tapi tidak ada salahnya jika si suami memberi pengertian kepada orangtuanya, apabila menginginkan hal yang sama dengan istri.

Apapun itu, jika terjadi suatu benturan antara menantu dan mertua. Musyawarah adalah jalan terbaik. Daripada terjadi suatu hal yang tidak mengenakkan hati.

Istri bicara kepada suami, suami memberi pengertian pada orangtua. Atau istri yang bicara dengan orangtuanya.

Selalu ada jalan keluar, walau kadangkala salah satu harus rela melakukan hal yang sebenarnya tidak diinginkannya.

Masih mending kan? Punya mertua yang baik. Bagaimana jika sebaliknya? Sedang hidup pun seatap dengan mertua? Tunggu tulisan saya berikutnya ya.

*

Sebelumnya artikenal ini telah terbit di Datdut.com pada 21 Januari 2019.